Toxic dan League of Legends, Dua Hal yang Sepertinya Tidak Akan Terpisahkan

Toxic dan League of Legends, Dua Hal yang Sepertinya Tidak Akan Terpisahkan


Halo, sobat gamer! Jangan lupa cek Youtube Channel INDOESPORTS ya. Ada video live stream turnamen esports setiap minggunya, dan informasi lain seputar esports. Ayo subscribe, like dan comment sekarang juga!


Masalah toxic dalam lingkungan kompetitif gaming sampai saat ini masih terus terjadi. Banyak pihak berusaha memusnahkan sikap seperti ini. Developer seperti Riot, Blizzard, dan Valve selalu mengutamakan ekosistem di mana kompetitif tetap ada di tiap game tapi tidak membuat situasi tidak nyaman. Troll dan juga griefing player biasanya bisa dilapor, tapi tetap saja, saat bermain dan menemui player yang seperti ini, kamu tidak akan nyaman.

Sikap toxic ini sayangnya menyerap di lingkungan eSports. Proses grinding atau climbing yang dilakukan tiap player untuk mendapatkan rank tinggi mungkin adalah pengaruh utamanya. Kamu sendiri pasti pernah merasakan stres karena situasi ELO yang parah. Dari stress ini mungkin akan muncul ucapan-ucapan yang tidak pantas ataupun perilaku yang negatif.

LoL Esports

Jika pemain biasa, mereka bisa istirahat dan berhenti sejenak jika penat dengan game. Di sisi lain, atlet eSports tidak memiliki waktu untuk itu. Mereka berlatih dari hari ke hari menghabiskan banyak jam tanpa kenal lelah. Hal inilah yang diduga membuat pemain eSports League of Legends menjadi toxic.

Walaupun ada rumor seperti ini, toxic juga bisa tergantung kepada kepribadian orang itu sendiri. Beberapa pemain pro League terkenal dengan sifat tenangnya. Pemain seperti Faker malah bisa dibilang kebalikan dari pemain toxic.

LoL Esports

Sebenarnya jika dilihat secara sekilas, pemain pro game ini terlihat tenang di panggung besar, tapi saat individu tersebut bermain sendiri (saat stream misalnya), watak toxic mereka bisa terlihat.

Peraturan yang ada di eSports League of Legends, mengharuskan tiap atletnya tidak memiliki perilaku negatif saat bermain. Di eSports, perilaku negatif para atlet dapat mencoreng nama tim, sponsor, dan juga pihak Riot itu sendiri. Banyak hukuman dapat dilayangkan pada para atlet yang ketahuan memiliki perilaku yang negatif.

Walaupun dengan peraturan yang ketat ini, tidak jarang ada pemain pro yang lepas kendali dan bahkan berperilaku buruk di atas panggung saat sedang bertanding. Contoh saja pemain pro bernama Vasilii. Pemain asal Tiongkok ini telah dihukum dengan ban dari turnamen profesional karena menghancurkan keyboard dan layar saat timnya kalah. Tentu hal ini tidak ditayangkan di layar secara langsung, tapi suara dan beberapa ekspresi orang yang ada di panggung dapat menggambarkan betapa kelakuan ini tidak pantas.

Mashable

Nah, pertanyaannya sekarang, apakah League of Legends memang game yang paling toxic? Dari para pemain biasa ke pemain pro-nya memiliki unsur tidak baik ini? Sebetulnya hal ini tidak sepenuhnya benar, terutama di kalangan pro. Seperti namanya, pemain pro menjadi profesional tidak hanya dari permainan mereka, tapi juga etika mereka saat bermain. Pemain hebat yang elite tapi tidak memiliki etika saat bermain mungkin tidak bisa dibilang pro.

League of Legends memang tidak akan pernah terlepas dari toxic, tapi mudah-mudahan game ini mampu mendapatkan solusi untuk menguranginya terutama di lingkungan eSports.


 


Ayo gabung dengan Komunitas Dota 2 dengan cara join di group facebook DOTA 2 ID.


Tags:

Share post:

Beri Komentar
Silahkan melakukan login terlebih dahulu

0 Komentar