Makan 11 Korban, Free Fire Jadi Media Predator Seksual Beraksi

Child abuse

Setidaknya 11 orang anak perempuan, berumur di antara 9 hingga 17 tahun, telah menjadi korban keganasan seorang predator seksual yang memanfaatkan game Free Fire sebagai alat untuk melancarkan aksinya.

Tersangka berinisial S, berusia 21 tahun, ditangkap di Berau, Kalimantan Timur, pada tanggal 9 Oktober lalu, dan ditetapkan atas kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

"Pada hari Sabtu, tanggal 9 Oktober 2021, di Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kaltim, sekitar pukul 19.40 WITA, penyidik berhasil menangkap S", demikian keterangan resmi dari Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Kombes Reinhard Hutagaol di Mabes Polri, Jakarta.

ini-tampang-pelaku-pelecehan-seksual-11-anak-via-game-online-1_169

Dalam menjalankan aksinya, tersangka menggunakan Free Fire untuk berburu korbannya. Mereka berkenalan di game online tersebut dan menjalin komunikasi intens setelah mendapatkan nomor WhatsApp-nya.

Setiap korban diiming-imingi imbalan "Diamond" dengan harga 100 ribu, dengan syarat harus mau untuk untuk melakukan video call sex (VCS) atau mengirimkan video telanjang.

Sebagai catatan, Diamond merupakan alat tukar mewah dalam game tersebut, yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas karakter dalam game lewat pengoptimalan senjata dan item lainnya.

"Tersangka mengimingi-imingi atau merayu akan memberikan Diamond kepada korban. Jika korban mau, diberi sebanyak 500-600, atau seharga Rp100 ribu", tutur Kombes Reinhard Hutagaol, dikutip dari detik.

Lebih lanjut, tersangka S juga mengancam para korbannya untuk menghapus akun game mereka, jika para korban tersebut menolak untuk menuruti kemauannya.

"Korban sempat menolak. Namun tersangka mengancam akan menghilangkan akun game korban sehingga korban menuruti kemauan tersangka", lanjut Reinhard.

Kombes Reinhard mengatakan bahwa kasus ini merupakan tindak lanjut dari aduan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang membuat Laporan Polisi (LP) pada tanggal 22 September 2021 lalu.

Aksi S terungkap setelah orang tua dari salah satu korban, berinisial D, menemukan video porno anaknya di telepon genggamnya. Dia juga menemukan percakapan WhatsApp antara D dengan S.

D juga menerima video porno balasan, yang ditemukan oleh sang orang tua di folder sampah galeri HP korban, yang nyatanya dikirimkan oleh teman game-nya, sebagaimana keterangan dari Kombes Reinhard.


Tags:

Apa menurut kamu Artikel ini keren?

Share artikel ini ke teman-teman kamu juga ;)

Beri Komentar
Silahkan melakukan login terlebih dahulu

0 Komentar